Faizal Assegaf (Progres 98)
Walaupun sebagian umat Nasrani mati-matian membela Ahok, namun para petinggi gereja tidak nekat memberinya gelar pendeta, pastur apalagi menjadi uskup agung.
Petinggi gereja masih punya malu, waras dan tidak mata duitan sehingga bertindak kehilangan martabat. Kalaupun ada gereja menyebut Ahok adalah anak tuhan, itu hanya bualan saja.
Mana bisa Ahok menggeser kedudukan Jesus sebagai anak tuhan? Bisa-bisa disebut Jessus tandingan. Isu seperti itu hanyalah banyolan dan perlu diluruskan.
Tetapi lucunya PKB dan PPP sebagai partai Islam justru lebih norak, krasak-krusuk membela terdakwa penista Al Qur'an. Bahkan organiasasi sayap NU, GP Ansor bertindak bahalul, menyebut Ahok Sunan dan diberi nama Basuki Nurul Qomar.
Kalau sudah disebut Sunan dan dapat gelar sebagai Santri Kehormatan, maka posisi Ahok sangat istimewa melebihi ulama, kiyai dan ustad?
Selanjutnya, monggo Sunan Basuki Nurul Qomar diangkat jadi Ketum PBNU. Sebab seorang Sunan layak memimpin para ulama, kiyai dan ustad.
Sungguh edan, umat mencemooh PBNU kini punya Sunan ke 10 berstatus terdakwa penistaan kesucian Al Qur'an, terkenal arogan, sumbu pendek dan doyan makan daging babi.
Ulah segelintir elite NU yang gelap mata telah mencoreng wibawa, kemulian dan harga diri organisasi NU. Pendekatan politik yang demikian sangat biadab dan tidak etis.
Ingat, organisasi NU, PPP dan PKB hadir atas dukungan umat. Tapi kini seolah tersandera oleh perilaku politisi busuk dan kiya abal-abal.
Kelezatan materi telah mengaburkan nurani, menggelapkan keimanan dan merusak akal sehat. Hati-hati, semangat membela terdakwa penista Al Qur'an akan menuai azab dari Allah.
Sudah banyak contoh, mereka yang getol melecehkan kesucian Islam dan mencoreng kehormatan Al Qur'an akan menuai petaka besar.
Jangan permainkan hati ulama dan umat Islam! Sudah cukup, Gus Dur adalah contoh nyata, saat berkuasa sangat banyak menyiram luka di hati rakyat. Hasilnya diusir secara hina dari Istana Negara!
Source: edunews.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar